Kembali Dengan Segala Kenangan “Tanjakan Cinta”



Aku pikir mendaki gunung itu mudah! Melihat postingan di instagram tentang betapa indahnya alam, bisa berdiri dipuncak ditemani pemandangan awan di sekilingnya. Bak seorang petulang hebat bisa menaklukan gunung, dengan segala medan yang harus di tempuh dan mistisnya gunung bisa meraka labas.

Ternyata Tuhan punya rencana tersendiri dan aku belum bisa berada di Puncak Abadi Para Dewa, yang tujuan dari rumah bisa berada disana. Tapi aku beruntung sekali karena bisa sampai di rumah dengan selamat dan bisa bertemu dengan kedua orang tua ku dirumah yang cemas anaknya mendaki gunung tanpa sepengatauan beliau. Iya aku mendaki kali ini tidak mendapatkan izin karena mereka melihat aku baru saja sakit. Tetapi mendekati keberangkatan badan ku sudah fit dan menurutku sudah siap untuk berkelanan. 

Langsung saja singkat cerita bisa teman teman baca dibawa. Dan mohon maaf banget bagi yang mempunyai minat baca tidak perlu membaca cerita saya di bawah ini. Jadi udah diingatkan kalian bisa sadar diri, sampai mana minat baca kalian. Padahal teman teman bahkan adik adik kita diluaran sana yang mempunyai akses jauh dari pemerintah dan sangat sulit menemukan buku bacaan yang bisa mereka baca. Bagi mereka membaca merupakan hal yang paling mengasikan, karena mereka terbatas beda banget sama kita yang sudah dibekali dengan teknologi yang canggih tapi tidak dimanfaatkan dengan baik. Perlu di renungkan teman teman semua membaca membuka pikiran kita lebih maju, wawasan yang terus berkembang. 

Pada mulanya saat aku bekerja di dekat rumahku, yang sedang ada pembangunan saluran irigasi yang bertujuan untuk memakmurkan rakyat desa dengan perkerjaan mereka petani. Dua bulan lebih aku bekerja disana, ditengah sawah matahari menyinari dengan terik sekali. Pada jam istirahat tiba-tiba ada pesan masuk. Ku pikir pesan grup. Iya hp ku hanya penuh dengan grup, tidak ada chat dari orang yang aku kagumi. Sembari makan aku buka pesan itu, wah ada ajakan naik gunung dari Adi Brata, temen yang suka berpetualang udah banyak gunung yang ia sambangi. Setelah melihat liat kupikir ini kok murah banget, beda yang sering aku liat di postingan Open Trip di Instagram. Yaudah tanpa pikir lama aku ikut bergabung, malam harinya aku langsung transfer uang ke Asri 280K untuk beli tiket kereta, maklum ini akhir tahun jadi harus cepat cari transportasi agar tidak kehabisan. Asri adalah teman baru ku di Metro kami kenal waktu pengalangan dana untuk saudara-saudara di Palu pada waktu itu sedang terkena musibah. Aku tanya sama Asri yang ikut Open Trip berapa orang dari Lampung? “ Ada 5 orang kata Asri “ Senang rasanya bisa mendaki bersama dengan teman yang sudah kenal lama. Pasti bakal seru sekali dan banyak cerita nanti disana. Namun mendekati keberangkatan Asri cancel, karena ada masalah dan aku gak tau, seperti putus hubangan kata si Adi. 

Tinggalah kami berempat Aku, Adi, Zay, dan satu perempuan bernama Risky Nirmala. Yang awalnya kami semua akan berangkat bersama tapi, aku sama risky memutuskan untuk berangkat duluan tgl 19 Desember dengan membeli tiket Damri tujuan Stasiun Gambir. Asalan kami berdua berangkat duluan untuk betemu kawan lama yang sekarang menetap di Ibukota. 
Untuk Adi sama Zay meraka menemukan barengan yang bisa diajak bareng ke jakarta kebutalan dia juga ikut Open Trip Dema, Ana Septian, sama Vivi mereka semua tinggal di Bandar Lampung. 

Pas hari Rabu sebelum nantinya bertolak ke Jakarta, aku harus mempersiapkan barang bawaanku semala disana, untung saja aku sudah memiliki perlengkapan mendaki yang aku beli bulan Juni. Mengecek terus mengecek supaya tidak ada yang tertingal sampe sampe aku packing 2 kali takut ada barang yang belum masuk carrier, maklum ini pendakian pertama ku jadi belum paham banget soal barang yang perlu dibawa selama mendaki. Aku dan Risky berangkat nanti malam jam 8, setelah makan malam aku dianter sama Oki temen sekontraan ke Pool Damri yang tidak jauh dari kontraan kami. Aku sampe duluan disana ku coba menghubungi Risky sudah sampe dimana?  Dijawablah masih dijalan, oh yaudah pikirku. Tepat pukul 8 malam bus yang kami tumpangi menjauh dari kota Metro, perjalanan ke Pelabuhan Bakauheni sekitar 3 jam sepanjang perjananan aku tidur. Sampai di Pelabuhan melihat antrian yang panjang membuatku kesal, tak biasanya terjadi antrian di pelabuhan, bener kataku kami sampai di pelabuhan jam 12 malam dan baru naik kapal jam setengah 4. perjalanan yang seharusnya sampai di Jakarta pukul 7 pagi, jadi sampai di Jakarta jam 9. 

Dijakarta aku dan Risky pisah dia ketempat temennya dan aku ketempat temenku. Dengan transportasi yang paling bisa di adalkan di Indonesia, aku bergegas memesaan ojek online yang bisa mengantarkanku ketempat tinggal temen ku. Perjalanan menggunakan sepada motor dan teriknya ibukota membuatku tak betah, bajuku basah kena keringat yang terus keluar. Setelah sampai tujuan dengan membayar 14K aku sampai di tempat tinggal temenku waktu SMA di Lampung. Namanya Dodi sekarang bekerja disalah satu hotel besar di Jakarta. Karna ku tak tahan dengan bau badan ku, aku segara mandi untuk membersihkan badanku yang penuh dengan polusi. Dodi mengajak ku untuk makan diluar kebetulan aku belum makan dari semalam. Kami berjalan menyusuri rumah rumah warga untuk mencari makan diujung sebrang jalan sana selesai makan aku mendekat ke kasir untuk membayar makanan yang telah kami pesan tetapi Dodi menarik ku katanya biar  aku aja yang bayar “dodi” oh yasudah lagian dia udah bekerja pasti duitnya banyak hehe. Kembali rumah karena dia harus berangkat kerja dan aku kaget saat Dodi bilang kalau pulang kerjanya jam 4 subuh, jadi aku ditinggal di rumah dia sendirian. Aku menghabiskan hari ini dengan tidur gak keluar kemana mana. 

Keesokan harinya pukul 9 pagi aku menuju Stasiun Pasar Senen, selepas pamit aku naik ojek online ke Stasiun rupanya disana Adi dan rombongan dari Lampung sudah duluan sampe. Tapi dari beberapa teman dari lampung gua ada tiga orang yang belum kenal, yaudah deh gua kenalan. Dema masih SMA, Ridwan temen SMA nya Dema dan satu perempuan cantik Vivi. Tak terasa waktu sudah siang pukul 2 siang hari Jum’at kereta Kertajaya melesat menuju kota Surbaya diujung pulau Jawa. Perjalanan yang memakan waktu lama hampir 13 jam dikerata. Hal yang sangat membosankan mau tidur gabisa karena bangkunya sempit harus berbagi sama penumpang lain. Mungkin ini perjuangan awal untuk kita semua mencapai puncak mahameru. Perjalanan kereta gak banyak cerita jadi langsung saja pukul 7 pagi kita sudah sampai di Kota Malang. Iya kota Malang yang menurut saya mempunyai keunikan tersendiri dengan dinginya kota Malang juga tersimpan destinasi yang sangat keren. Jadi gak salah untuk menjadikan kota Malang jadi tujuan berlibur kalian.

Di ujung sebrang stasiun Malang ada segrombolan orang yang penampilannya mirip denganku, setelah mendeket ternyata itu para peserta trip yang juga mau ke Semeru. Waduh banyak banget ini “sambil tak percaya”.  Mendaki dengan 100 orang. Iya sudah dipastiin nanti di gunung keadanya seperti pasar. Ya kami semua saling merjabat tangan tanda sebagai saudara, jadi yang gabisa menghafal namanya satu persatu. Masih ada waktu nih sambil menunggu rombongan lain datang, kami ber 5 Adi, Zay, Risky, Vivi mengisi perut dulu sebelum melanjutkan perjalanan ke daerah Tumpang menggunakan angkot.

Dalam perjalanan ke Tumpang aku naik angkot nomer 5 selain dari Lampung yang naik angkot, ada 4 orang laki laki ganteng dari Bandung usia dia jauh lebih tua dari aku Mas Luki yang sekarang bekerja di salah rumah sakit di Bandung, Mas Fachmi sekarang bekerja sebagai guru, Mas Septian juga sebagai guru, dan terakhir mas Deja yang sekarang sedang disibukan dengan tugas akhir nya mungkin mas Deja pusing dengan skripsinya jadi dia lari ke gunung untuk menenangkan pikiran. Perjalanan tidak memakan waktu lama sekitar pukul 11 kami semua sudah sampai di daerah Tumpang. 

Semeru adalah mimpi bagi setiap pendaki pemula, kenapa begitu? Dia menyimpan segala keindahan tak banyak pendaki melakukan pendakian pertama langsung ke atap pulau Jawa, lucu rasanya kalau dilakukan dengan minimnya pengetahuan tentang dunia pendakian tak banyak yang gagal sampai puncak karena fisik yang tidak kuat. Iya track Semeru tidak main main tapi dengan segala keindahan yang disuguhkan capek pun bisa langsung hilang. Ranu Regulo, Ranu kumbolo, Oro-Oro Ombo adalah serpihan surga gunung Semeru.

Pukul 12 selepas meraka melakukan ibadah kami melesat dengan menggunkan Jeep menuju desa terakhir untuk melakukan pendakian Ranu Pane. Jeep melesat dengan sangat kencang aku tak biasanya naik mobil dengan kecepatan tinggi dan jalan yang sempit dan banyak tikungannya, tapi sopir sopir yang ada diisi sudah teruji kemampuannya sehingga aku merasa aman aman saja dan menikmati pemandangan di sepanjang jalan. Rencana sih mau mengambil video pas di perjalanan tetapi tidak memungkinkan dengan kencangnya jeep melaju aku pikir akan membahayakan saja. Semakin masuk kawasan TNBTS atau Taman Nasional Bromo Tengger Semeru udara pengunungan sangat terasa apalagi pas turun kabut jadi menambah dingin saja. Di pikiranku apa aku kuat dengan dinginnya udara disini, mencoba beradaptasi dulu disini udah dingin gimana kalau sudah di Ranu Kumbolo seperti apa disana. 

Sampai desa Ranupani pukul setengah 3 dan langsung berkumpul dengan para pendaki lain, para ketua tim disibukan dengan Simaksi yang peraturan di Gunung Semeru semakin susah. Para ketua mengumpulkan surut keterangan sehat dari dokter yang nantinya akan dikasihkan ke petugas TNBTS, untuk kelompok ku bisa beres hari itu juga, tapi kejadian yang tak diinginkan terjadi dan membuat kami semua kecewa. Untuk kelompok lain ada masalah dengan surat sehatnya jadi gak bisa masuk gunung Semeru. Ya gimana lagi aku ndaki ikut Open Trip jadi harus mengikuti panitia. Hari pertama yang seharusnya udah haiking ke Ranu Kumbolo harus ditunda dulu sampai besok seberes mengurus simaksi. Kami semua pun mengambil keputusan untuk bermalam di Ranu Regulo sebuah danau yang pemandangannya hampir mirip dengan Ranu Kumbolo. dan itu tidak jauh dari Ranupane. Aku tidur dengan nyenyak disana walaupun bangun bangun Sleeping Bag ku bawa karena tenda yang tidak beres. Sial disini udah basah nanti di Ranu Kumbolo aku tidur gak pakai SB.

Pagi sekitar jam 8 pagi kami naik lagi ke Ranupane untuk untuk mengurus simaksi. Untuk yang masuk kelompok ku udah beres simaksinya jadi gak usah pusing mikirin bikin surat sehat. Akhir aku memutuskan untuk naik duluan dengan kelompok simaksi seberes makan di salah satu rumah makan disana dengan harga yang masih bisa dibilang murah. Aku dan temanku ber 10 mulai berjalan menuju gerbang pendakian Gunung Semeru disana sembari petugas mengecek tiketnya kami sempatkan untuk berfoto di plakat Gunung Semeru sebagai tanda kalau sudah berada di tempat ini hehe. Tracking awal sudah dibikin sesak nafas, jalan yang terus nanjak membuat nafas kami tidak beraturan ini awal tracking kok sudah begini ya, pikirku. Apalagi sudah memasuki tengah hutan, aku pun jalan santai sembari berhenti sejenak mengatur nafas, bukan aku saja yang merasa kelelahan yang baru pertama naik gunung teman teman ku juga merasakan hal yang sama. Semakin masuk ke hutan ditemani kabut yang sangat tebal tiba tiba hujan datang dengan deras, untung saja di depan kami ada penduduk disana yang sedang membangun pipa besi untuk mengaliri air sampai ke pos pos yang ada di jalaur pendakian. Dengan atap terpal kami berteduh dan menunggu hujan reda, kami mendaki di musim hujan dan ini resiko yang harus kami semua terima, akhirnya kami melanjutkan perjalanan menggunakan poco atau jas hujan yang melindungi badan kami dari guyuran hujan yang terasa dingin. Selama berjalan akhirnya kami sampai di pos 1, ada yang jualan tapi disana udah dipenuhi sesak para pendaki yang sedang berteduh aku tidak beli apa apa disana. Hanya berteduh di warung milik warga yang kebetulan tidak sedang buka. Menunggu lama hujan pun belum reda juga akhirnya setalah istirahat cukup kami melanjutkan perjalanan. Hujan pun muali reda dan kabut kian lama kian menghilang, kami tetap jalan santai dengan 2 perempuan, Dini dan Naura kalau fisik dari Dini saya akui dia sangat kuat tetapi beda halnya sama Naura sebelum sampai pos 2 dia sesak nafsa sedangkan 6 orang kelompok kami sudah duluan naik dibelakang tinggalan aku Arif, bang Ade, bang Sande, dan bang Pipin. Kami lalu istirahat sejenak sambil mengecek keadaan Naura apa baik baik saja, seperti Naura sesak nafas dan juga dia membawa carrier lumayan berat, pantas saja dia sangat kelelahan. Yang seharusnya perjalanan dari Ranupane ke Ranukumbolo dapat di tempuh sekitar 5 jam. Kami ber 4 sampai di Ranukumbolo jam 3 sore yang tadi awal tracking jam 10 pagi.

Sampai di Ranukumbolo rasa takjub akan keindahannya sangat membuat mata ku terperanga, bisa berada dan melihat secara langsung banyak pendaki menyebut Ranukumbolo sebagai Surganya Gunung Semeru. Sampai di tenda yang telah di siapkan oleh panitia Open Trip, aku langsung membongkar isi carrier dan mengeluarkan barang bawaan seperti air mineral yang memberatkan. Mencari toilet untuk membersihkan badan sekaligus menganti pakain yang sudah basah tadi. Kalau tidak di ganti nanti bisa terkena hipotermia. Melihat harga yang terpampang di atas membuat saya mengurungkan niat untuk mandi, karena mandi 10K bisa buat makan itu hehe. Akhirnya cuma membasuh muka sama ganti baju bayar 5K. Terus kami semua makan yang sudah disiapkan panitia. Lalu istirahat karena nanti malam jam 9 summit ke puncak Mahameru. Tak biasa memang summit dari Ranukumbolo kalau pendaki lain yang mempunyai waktu pendakian 4 hari di Semeru mereka summit dari Kalimati.  Waktunya summit tiba kami semua di bangunkan oleh para panitia dan sudah disediakan makanan mie instan. Dan aku sebagai ketua kelompok mengecek teman teman yang siap siapa dan yang tidak sanggup mending gak ikut summit. Rombongan dari Bandung yang ikut summit hanya satu orang Mas Septian, sedangkan yang 3 lainya dia mau summit besok dari Kalimati. Segala persiapan udah siap sebelum summit briefing terlebih dahulu. Aku bejalan bareng Vivi di belakang pas naik tanjakan cinta aku lihat mbak Intan anggota kelompok ku sedang duduk setelah sampai di tanjakan dia kelelahan, sebelum berangkat dia memang sudah gak enak badan, melihat kawan kawan setenda pada mau summit dia memutuskan ikut. Yang awalnya aku sama vivi kini jalan bareng sama mbak Intan dan Zay yang tadi menemani mbak Intan. Rombongan lain tetap berjalan kami di barisan paling belakang. Berjalan dengan orang yang tidak fit membuat kami ber 4 sering istirahat. Setelah memasuki hutan Cemoro Kandang keadaan tidak memungkinkan akhirnya setelah istirahat lama, kondisi mbak Intan sudah gak kuat untuk lanjut akhirnya kami memutuskan untuk turun, aku menyuruh Zay untuk terus melanjutkan summit nya sedangkan aku bertiga Vivi, mbak Intan turun lagi ke Ranukumbolo. Sebenarnya aku gak enak sama Vivi dia ikut jadi korban juga gagal summit, karena harus nemani mbak Intan turun. Tapi nyawa jauh lebih penting, alam mempunyai caranya tersendiri untuk menjaga kita dari marabahaya atau bahkan menghancurkan kita. Diperjalanan turun dari Jambangan ke Ranukumbolo kami banyak berhenti mengingat mbak Intan sudah tidak kuat lagi. Sedangkan aku dan Vivi sudah mulai kedinginan kami pun terus memaksa mbak Intan untuk berjalan karena kabut yang datang dan rintikan hujan akan membuat udara semakin dingin. Berjalan hampir 1 jam kami bertiga sampai di atas tanjakan cinta, lagi dan lagi mbak Intan sudah tidak kuat mata dia ngantuk banget yaudah pikirku istirahat dulu jugaan bentar lagi sampai Ranukumbolo, eh tau tau mbak Intan sudah tertidur diatas rumput setelah Vivi membangunkan mbak Intan dengan rasa lelah kami bertiga menuruni tanjakan cinta yang curam.

Kami sampai di Ranukumbolo jam 2 dini hari tenda makin banyak mungkin para pendaki sampai semalem pada saat kami summit. Karena Vivi belum makan sedari siang akhirnya kami bertiga memasak mie instan di tenda sembari menghangatkan tangan yang tadi sempat kedinginan. Seberes makan aku langsung masuk ke tenda dan tidur, iya aku tidur sendirian di tenda 3 orang teman ku Adi, Dema, sama Zay berjuang menuju puncak. Menurutku gapapa lah gak jadi summit tapi masih bisa menikmati sunrise di Ranukumbolo. Walaupun tidur cuma 2 jam, aku bangun jam 5 pagi dan membuka tenda untuk keluar udara yang sangat dingin membuatku malad untuk keluar tenda. Aku liat di pinggir danau Mbak Intan sama Vivi ternyata sudah bangun dan sudah ambil foto. Ini jam 5 kok gak ada tanda tanda sunrise muncul, iya benar kami tidak berkesempatan melihat matahari menampakan wujudnya di Ranukumbolo. Aku samperin mereka aku hanya diam dan duduk karena benar benar dingin mau gerak pun gak kuat, setelah foto foto dan berjalan di pinggir danau aku langsung masuk tenda untuk melanjutkan tidurnya. Bangun bangun jam 10 aku melihat ada seorang turun dari tanjakan cinta dari raut muka nya aku mengenalinya. Iya teman dari Lampung yang berangkat bareng naik Damri. Mbak Risky Nirmala aku langsung menanyakan kabar dia gimana? Dijawab” hanya sampai Kalimati udara dingin yang mengagalkan nya bisa berdiri dipuncak. 

Kemudian aku mengajak Vivi untuk naik lagi tanjakan cinta untuk mengambil gambar, iya pas perjalanan turun semalem dia pengen naik tanjakan cinta terus mau foto dengan puas. Melihat tenda tenda berjejer rapi dan para pendaki berlalu lalang kian menambah keindahan pemandangan di Ranukumbolo, melihat dari atas tampak kecil para pendaki dibawa sana yang sedang di sibukan mengambil air untuk mereka memasak. Duduk melihat surganya Semeru dari tanjakan cinta merupakan kenangan yang paling indah dan susah dilupain. Ketika kami sedang asik berfoto dibawah ada satu perempuan naik namanya Mbak Sakanih kebetulan satu tenda dengan Vivi dan juga kami bertiga berasal dari daerah yang sama Lampung, walaupun sekarang mbak Sakinah menetap di Jogja. Kami bertiga naik sampai atas tanjakan walupun kaki rasanya udah pegal kami memaksakan, melihat sabana luas Oro-Oro Ombo walupun kami datang di waktu yang tidak tepat karena bunga bunga disana sekarang sedang mati. Belum aja ambil gambar tiba tiba hujan kami pun turun lagi. Pas kami betiga turun kami banyak berpapasan dengan pendaki yang mau menuju ke Kalimati. Duduk di jalur tanjakan cinta sambil melihat ekspresi lucu para pendaki yang naik tanjakan cinta dengan beban berat dipundaknya. Vivi merekam kejadian unik, yang mitosnya ketika menaiki tanjakan cinta tidak boleh menenggok ke belakangan katanya biar enteng jodoh, tetapi waktu itu banyak sekali pendaki yang berhenti terus menenggok ke belakang, lucu pokoknya mereka melanggar mitos yang ada di tanjakan cinta. 

Pukul 12 makanan sudah di siapkan dengan menu siang itu nasi pecel. Wah aku baru pertama kali makan pecel seenak ini, apa mungkin makan di gunung rasanya beda, sama halnya makan buah semangka di gunung rasanya lebih nikmat di bandingkan makan dirumah. Karena tidak ada kegiatan aku pun kembali masuk tenda untuk tidur. Mendaki membuatku untuk malas mandi iya aku selama di mendaki gunung Semeru gak mandi 3 hari hehe. Sore hari mereka yang berjuang mencapai puncak tertinggi Pulau Jawa turun satu persatu dengan wajah yang sulit diungkapkan rasa bangga, senang, terharu, dan lelah harus berjalan selama 12 jam lebih hingga sampi Ranukumbolo. Dalam hati saya pengen seperti mereka bisa berdiri di Mahameru, tetapi tuhan belum mengizinkan saya berada disana. Janji pun terucap dari mulutku untuk kembali lagi kesana. Hari kian petang makan malam pun sudah di siapkan dengan menu malam sop dan tempe goreng wah sangat enak sekali. Selesai makan badan ku kembali kedinginan karena tadi sore tidur tidak pakai SB yang masih basah. Untung ada teh jadi bisa sedikit menghangatkan badan dan akhirnya aku masuk tenda untuk tidur, di kaki sangat terasa dingin nya sampai sampai emergency blanket yang tadi dipakai Zay summit tak pakai buat membungkus kaki biar tidak kedinginan. 

Pagi pagi masih mengharapkan matahari di Ranukumbolo muncul dengan indah. Tapi sama halnya seperti kemaren pagi tidak ada apa apa disana, hari ini hari terakhir berada di Ranukumbolo sembari bercengkrama dengan pendaki lain sambil menunggu waktu untuk turun ke Ranupane. Rasanya tidak mau pergi dari kenangan Ranukumbolo yang sangat indah membuatku lupa akan masalah yang akhir akhir ini menyerangku. Selesai mengepak barang barang dan memasukan ke dalam carrier, aku dan kelompok dari Lampung turun duluan ke Ranupane. Walaupun beban air mineral hilang dalam carrier ku kini berganti dengan trashbag dengan sampah yang harus dibawa turun lagi, taukan kalo mengotori alam adalah hal yang paling bodoh bagi manusia. Sama halnya pertama naik dari gerbang masuk ke pendakian. Dari Ranukumbolo pun sama jalurnya sangat nanjak membuat ku merasa pusing dan sesak nafas, fisik ku tidak sekuat kemaren alhasil kini aku yang banyak berhenti untuk mengatur nafas. Aku pun terpisah dengan rombongan kini kami turun 5 dengan Mas Septian, mbak Intan, mbak Sri dan Vivi kami turun dengan santai dan mengobrol biar tidak capek katanya. Rasa lemas pun menghampiri kita tetapi bentar lagi sampai pos 3 dalam bayangan kita semua adalah semangka kami ber 5 pun semangat karena ada semangka yang bisa menghilangkan rasa haus. Tapi setelah sampi pos 3 tidak ada satu pun pedagang, kita semua gagal makan semangka, mana jarak pos 3 ke pos 2 lumayanlah jauh dengan tenaga yang tersisa kami berjalan. Ya masih semangka yang jadi penyemangat kami ber 5 sampai pos 2 akhir bisa makan buah semangka walupun harganya agak mahal tapi tak apalah karena sebanding dengan rasanya. Pos demi pos kami lewati hingga akhirnya sampai di Ranupane jam setengah 12. Bodohnya diriku yang tidak tahu kalau jam 12 petugas TNBTS istirahat. Kami pun makan di warung makan yang waktu pendakian pertama makan disini juga. Setelah makan membeli oleh oleh dulu disana dengan harga paling murah 5K gantungan kunci tentang Semeru. Harus menunggu sampai jam 1 untuk menukarkan simaksi dan mengambil KTP ku yang menjadi jaminan disana. Mau turun dan naik jeep tiba tiba hujan aku dan Vivi duduk dan memesan bakso tapi aku gak makan Vivi yang makan. 

Menunggu jeep hingga hampir ketinggalan kereta Matarmaja. Jeep yang seharusnya jam 1 sudah ada di Ranupane belum menampakan wujudnya ditemani hujan rintik rintik kami serombongan menunggu sampai jam 2 setalah datang satu persatu kami masuk dan harus cepat ke Stasiun Malang karena keberangkatan kereta pukul 5 sore. Kami semua sampai di Stasiun tepat waktu Arif yang di tugaskan untuk mencetak tiket dia berangkat duluan dengan ojek online ke stasiun. Dengan baju yang bau kami semua pun masuk kereta, baju basah mengganggu ku akhirnya aku ganti baju dan menikamti perjalanan kereta yang meninggalkan kota Malang menuju ke Jakarta. Di dalam kereta aku masih saja merasa kecewa walaupun aku terus untuk melupakannya kejadian kemaren bisa dijadikan pelajaran berharga. Didalam kereta aku asik mainan hp karena baru ada sinyal dan melihat berita kalau di Banten dan tempat tinggalku terjadi bencana, rasa sedih pun kian ku rasakan menggingat keluarga dirumah yang sedang cemas menunggu kabar dari anaknya. Melihat gunung Anak Krakatau sedang tidak baik baik saja aku cemas apakah bisa melakukan penyebrangan dari Merak ke Bakauheni karena ombak yang tinggi. Sampai jakarta jam 8 aku langsung ke Terminal Pasar Senen untuk mencari bus ke Terminal Kalideres aku pulang sendirian setelah mbak Risky tidak mau aku ajak pulang bareng karena ada urusan beretemu dengan teman di Jakarta. Sampai Merak hari sudah sore, hebatnya aku hehe makan kemaren jam 12 di Ranupane dan makan lagi besoknya di Merak jam 4 sore 17 jam perut kosong. Seberes makan aku berjalan menuju loket diujung disana ternyata sudah ada Redho sama Irvan yang kemaren juga ikut Open Trip walau di pendakian aku tidak terlalu mengenal mereka pas pulang kami bertiga bertemu. Aku yang belum punya E-Money untuk membeli tiket harus membuatnya terlebih dahulu dengan harga 50K. Hari kian petang matahari hampir terbenam kami naik kapal dan duduk di luar menikmati angin laut yang sangat dingin. Ditengah tengah perjalanan keadaan buruk terjadi ombak yang besar membuat kapal yang kami naiki sedikit oleh perjalanan kami pun jadi lama karena ombak yang tinggi, dan di temani kilatan yang sumbernya dari Gunung Anak Krakatau. Kapal bersandar dengan sempurna. Ketika kami turun para supir travel sudah menarik narik kami untuk menaiki armada mereka yang begini lah ketika teman teman datang ke Lampung pinter pinternya kalaian menawar para supir travel. Perjalanan dilanjutkan dengan mobil travel ke kota Bandar Lampung dan hampir jam 12 malam, aku pun berhenti dan menginap di kost temen yang sedang kuliah di Bandar Lampung sedangkan Redho dan Irvan langsung menuju Bandar Jaya.

Janji janji janji Semeru, iya aku berjanji untuk kembali, dengan segala kenangan yang sudah aku buat disana. Semeru masih di hati dan gak akan kemana.
Terima kasih kepada semua teman teman yang sudah melakukan pendakian bersama ku ke Semeru tanpa kalian aku gak bisa sampai sana, segala cerita segala kenangan yang terukir indah akan selalu ku ingat dalam sanubari ku. Selamat yang sudah mencapai puncak yang jangan sampai berhenti di puncak Mahameru kalian luar biasa naiklah ke puncak puncak lain nya. Dan juga yang kemaren gagal jangan patah semangat karena ku yakin kalain itu kuat dan bisa mencapainya tinggal waktu yang menjawabnya. Mohon maaf banget apabila dari pribadiku ada salah atau tutur kataku selama pendakian menyinggung persaan teman teman mohon di maafkan. Saudara baru teman baru semoga kita tetap dalam lindungan Tuhan Yang Maha Esa dan diberikan kesehatan agar suatu nanti bisa bertemu dengan cerita yang beda. 


Salam hangat dariku di Lampung yang kini merindukan keberadaan kalian. “KRISMON M ROLIS” 21- 25 Desember 2018 SEMERU 3676 Mdpl

0 Response to "Kembali Dengan Segala Kenangan “Tanjakan Cinta” "

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel